heaven!

A conceptual heaven.
Indonesian, biotechnologist from Bandung Institute of Technology.
Fabulous.

Ketika Terlalu Terbiasa untuk Menebeng

Hello guys!

Salam sejahtera, apa kabar ini Tumblr semakin lama semakin lapuk gini. Di tengah-tengah kegilaan semester lima di ITB yang bisa bikin orang sakit cacar, bikin orang pingsan di tengah-tengah ke-hectic-an kuliah lapangan, sampai bisa bikin orang beli hp baru #ganyambung. Sedikit cerita keidiotan saya sewaktu masih berseragam putih abu (Mekarlah kembang riang! -hymne SMAN 8 Bandung-), masa-masa ketika hidup itu indah, yeah.

Jarak dari rumah saya menuju ke SMAN 8 Bandung hanya sekitar 1 kilometer, dan setiap hari saya menebeng temen untuk pergi ke sekolah, karena rumah saya berada di jalur berangkat seklah anak-anak Delapan. Yes I love nebeng, it’s the coolest way to save our earth!

Hari itu, ga seperti pagi-pagi biasanya, saya pergi ke sekolah naik motor. Parkirlah motor saya di halaman sekolah tercinta, kemudian meuju kelas. Seharian itu saya seperti biasa cengengesan dan overjoyed becanda sama temen-temen, tanpa merasa bersalah akibat ga ada materi pelajaran satu pun yang nempel di otak.

Bubar sekolah, kebanyakan temen pergi ke bimbel (maklum kelas tiga yang “katanya” bikin stres) sebut saja inisialnya SSC atau NF atau GO. Sementara itu, saya main basket sampai sore demi kehidupan lebih bahagia. Kecapean main basket lalu saya memutuskan pulang ke rumah, padahal biasanya pergi ke rumah Rian untuk nonton DVD atau ngadu main PS 2. Ketemulah saya dengan Ridho, teman tapi mesra dekat saya, salah satu ojek paling setia yang mau saya tebengin setiap pergi dan pulang sekolah. “Do nebeng balik ya!”. Meluncurlah kami ke rumah, syalalala pulang ke rumah tanpa beban untuk hari esok.

Masuk ke rumah, perasaan masih biasa dan tanpa pikiran apa-apa. Mandi (barau abis basket), makan, nonton tv. Lalu sampai beberapa saat kemudian, saya ke luar ke teras rumah, menyadari motor ga ada. “Ancol motor aing ga ada! )#)*!)#*^!^*$! KAMANAAA MOTOR AING!”. Sempat panik sekitar dua menit tiga puluh satu detik (ngasal), oh tidaaak motorku sayang kenapa kau bisa hilaaang begitu sajaaa. Lalu teringat masa-masa indah dengan motor butut itu, ketika hujan-hujanan keliling kota, ketika babanjiran di komplek rumah Rian, ketika ngebonceng cewe-cewe (cupu amat ya). Lalu kenangan itu buyar seketika, “Oh iya motor aing kan di sekolah, tadi pagi pergi bawa motor. Babeeeeeeey”.

Alhasil menjelang Maghrib di penghujung masa-masa SMA, saya jalan kaki dari rumah balik lagi ke sekolah…. untuk menjemput motor.

Thanks motor bututku, untuk hari-hari yang ceria bersamamu hingga hari ini. Wassalam.

Riksa Rama.

Hidup ini dibawa santai aja bos, why so serious?

  1. riksarama posted this